Tampilkan postingan dengan label Pencegahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pencegahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2020

SEBERAPA PENTINGNYA ASI EKSKLUSIF BAGI BAYI???

          PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Pemberian ASI Eksklusif termasuk dalam PHBS di Rumah Tangga dengan upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu melaksanakan pemberian ASI eksklusif pada bayi baru lahir.
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan alamiah berupa cairan dengan kandungan gizi yang cukup dan sesuai untuk kebutuhan bayi, sehingga bayi tumbuh dan berkembang dengan baik. Air Susu Ibu pertama berupa cairan bening berwarna kekuningan (kolostrum), sangat baik untuk bayi karena mengandung  zat kekebalan terhadap penyakit. Selain itu ASI juga menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan. (Kemenkes,2016)
Dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, UNICEF dan WHO menargetkan pada tahun 2030 dapat mengurangi angka kematian neonatal paling sedikit 12 per 1.000 kelahiran hidup dan kematian pada anak di bawah usia 5 tahun paling sedikit 25 per 1.000 kelahiran hidup. Hal tersebut dapat dicapai salah satunya dengan pemberian ASI eksklusif dilaksanakan dengan baik. WHO juga merekomendasikan sebaiknya bayi hanya disusui dengan air susu ibu (ASI) selama paling sedikit 6 bulan, dan pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berumur dua tahun (WHO, 2018).
Di Indonesia, bayi yang telah mendapatkan ASI eksklusif sampai usia enam bulan adalah sebesar 29,5% (Profil Kesehatan Indonesia, 2017). Hal ini belum sesuai dengan target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 yaitu persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 50%. Rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak yang akan berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan kualitas sumber daya manusia secara umum (Rahman, 2017).
Air Susu Ibu (ASI) memiliki banyak kandungan dan manfaat bagi bayi seperti berikut:
1.Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kecerdasan.
2.Mengandung zat kekebalan.
3.Melindungi bayi dari alergi.
4.Praktis, aman dan terjamin kebersihannya, karena langsung disusukan kepada bayi dalam keadaan segar.
5.Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernapasan bayi.
6.Menjalin hubungan kasih sayang antara ibu dengan bayi.
7.Mengurangi pendarahan setelah persalinan.
8.Mempercepat pemulihan kesehatan ibu.
9.Menunda kehamilan berikutnya.
10Mengurangi risiko terkena kanker payudara.
Harapanya dengan adanya artikel ini dapat membantu dalam mengedukasi pembaca agar mengetahui pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi dan membantu pemerintah dalam mencapai target rencana strategi Kementrian Kesehatan untuk pemberian ASI eksklusif.

Sumber :
Booklet PHBS di Rumah Tangga Kementrian Kesehatan 2016
WABA. Breastfeeding: Foundation of Life. http:worldbreastfeedingweek.org (diakses 20 juli 2020)
WHO. Infant and Young Child Feeding. http:www.who.intnews-roomfact-sheetsdetailinfant-andyoung-child-feeding (diakses 20 juli 2020)


Penulis : Denis Septian/21601101028

Kamis, 16 April 2020

WASPADA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD), INGAT DENGAN 3M !!!

Di Indonesia pada awal tahun 2019 tercatat jumlah penderita DBD sebesar 13.683 penderita, dilaporkan dari 34 Provinsi dengan 132 kasus diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2018) dengan jumlah penderita sebanyak 6.167 penderita dan jumlah kasus meninggal sebanyak 43 kasus.  Pada awal tahun 2019 ini tercatat beberapa daerah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD diantaranya Kota Manado (Sulawesi Utara) dan 7 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Ngada, Timor Tengah Selatan, Ende dan Manggarai Timur. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat bahwa Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.
Penyakit DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue, suatu virus  yang termasuk dalam marga (genus) Flavivirus dari famili Flaviridae. Penularan virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk yang termasuk subgenus Stegomya yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer dan Ae. polynesiensis, Ae.scutellaris serta Ae (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder. Fakto risiko penularan DBD adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat. Selain itu adalah kemiskinan yang mengakibatkan orang tidak mempunyai kemampuan untuk menyediakan rumah yang layak dan sehat, pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar.
Gejala yang timbul dari penyakit ini diantaranya adalah demam yang mendadak tinggi, terus menerus , disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, kemerahan pada kulit. Gejala lain seperti anoreksia (nafsu makan berkurang), nausea (mual), dan muntah sering ditemukan. Bila diperiksa laboratorium darah, biasanya didapatkan adanya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan pada awal jumlah trombosit dan nilai hematokrit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal. Selanjutnya bisa ditemukan penurunan jumlah trombosit dan peningkatan nilai hematokrit. Fase ini biasanya berlangsung selama 2–7 hari.
Setelah mengetahui pengertian dan cara penularan dan gejala yang dtimbulkan, maka pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian penyakit DBD juga harus disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat dapat memahami pencegahan dan pengendaliannya sehingga dapat menurunkan angka kejadiannya. Upaya-upaya untuk mangantisipasi dan menanggulangi berjangkitnya DBD melalui gerakan 3M-plus (menguras tempat penyimpanan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air dan menutup tempat-tempat penampungan air keluarga serta tindakan plus yaitu menggunakan kelambu, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah menaburkan bubuk larvasida/abatisasi pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, pemantauan jentik berkala (PJB), penggunaan obat anti nyamuk, mengoleskan obat anti nyamuk (repellent), memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk.


Pemberantasan sarang nyamuk perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk, sehingga seringkali menimbulkan KLB. Hal ini memerlukan kepedulian dan peran serta aktif seluruh masyarakat untuk bergotong-royong melakukan langkah-langkah pencegahan tersebut. Menurut Pedoman Kemenkes RI tahun 2007, kegiatan pengendalian vektor dengan pengasapan atau fogging fokus dilakukan di rumah pasien/tersangka DBD dan lokasi sekitarnya yang diperkirakan menjadi sumber penularan. Kegiatan ini dilakukan bila hasil penyelidikan epidemiologi (PE) positif yaitu ditemukan pasien/tersangka DBD lainnya atau ditemukan tiga atau lebih orang dengan demam tanpa sebab dan ditemukan jentik > 5%.
Selain peran dan ikut serta dari masyarakat, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, pelayanan kesehatan yang baik diharapkan dapat  menurunkan angka kejadian dan kematian dari DBD. Angka kasus DBD serta keberhasilan program penanggulangan DBD tidak terlepas dari bagaimana pemberdayaan (peningkatan pengetahuan, persepsi, sikap dan praktik) masyarakat dalam penanggulangan DBD.
  
Sumber :
WHO. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Jakarta: WHO & Departemen Kesehatan RI; 2003

Kemenkes.2019. Kesiapsiagaan Menghadapi Peningkatan Kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2019.http://p2p.kemkes.go.id/kesiapsiagaan-menghadapi-peningkatan-kejadian-demam-berdarah-dengue-tahun-2019/ Diakses pada tanggal 14 April 2020.

WHO. Dengue: Guidlines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New Edition. Geneva: World Health Organization; 2009

Penulis : Laili Liutammima | 21601101094

Apakah benar vaksin berbahaya bagi anak, cek faktanya !


Imunisasi merupakan pencegahan primer terhadap penyakit infeksi yang paling efektif dan murah. Imunisasi bukan saja dapat melindungi individu dari penyakit yang serius namun dapat juga menghindari tersebarnya penyakit menular.

Rumor negative tentang vaksin di Indonesia
Apa saja sih rumor yang salah mengenai topik pembicaraan vaksin yang sering beredar di masyarakat?, ayo kita ulas satu persatu.

1.Menjaga kebersihan diri-lingkungan dirasa cukup untuk memberantas penyakit dan peran vaksin tidak begitu penting.
è FAKTANYA : Penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi dapat menyerang kembali apabila program vaksinasi dihentikan. Sementara perbaikan kebersihan, cuci tangan, dan air bersih dapat membantu melindungi kita dari penyakit infeksi, banyak penyakit infeksi yang tetap menyebar seberapa pun bersihnya seseorang. Jika orang-orang tidak divaksinasi, penyakit yang tidak biasa ditemukan seperti campak dan polio , dapat dengan cepat timbul kembali.

2.Vaksin memiliki efek samping jangka panjang yang belum diketahui.
è FAKTANYA : Vaksin itu aman. Kebanyakan reaksi vaksin bersifat sementara, seperti nyeri pada tempat penyuntikan atau lengan atau demam ringan. Masalah kesehatan serius atau berat sangat jarang terjadi. Orang-orang jauh lebih berisiko untuk sakit parah akibat terinfeksi penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin daripada karena divaksin.

3.Memberikan vaksin dengan jumlah lebih dari 1 secara  bersamaan akan menimbulkan risiko yang berbahaya bagi imunitas anak.
è FAKTANYA : Bukti ilmiah menunjukkan bahwa memberikan beberapa vaksin pada waktu yang bersamaan tidak berpengaruh pada sistem imun anak tersebut. Peristiwa sederhana seperti memakan makanan membuat tubuh mengenal antigen baru dan banyak bakteri yang hidup di mulut dan hidung. Seorang anak lebih banyak terpapar antigen dari selesma atau nyeri tenggorok daripada oleh vaksin. Keuntungan menerima beberapa vaksin sekaligus adalah mengurangi jumlah kunjungan, sehingga menghemat waktu dan uang, serta anak-anak pun lebih pasti mendapatkan vaksinasi yang dianjurkan sesuai jadwal.

4.Lebih baik kebal melalui penyakit daripada vaksin.
è FAKTANYA : Vaksin berinteraksi dengan sistem imun tubuh kita untuk menghasilkan respons imun yang sama dengan respons imun infeksi alamiah, tetapi vaksin tidak dapat menyebabkan sakit atau membuat seseorang menderita komplikasi.

Peneliti Imunologi dan Epidemiologi membuktikan bahwa bayi/balita yang tidak diimunisasi lengkap, tidak memiliki kekebalan spesifik terhadap penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit, menderita sakit berat, menularkan ke anak lain sehingga menyebarluas dan menyebabkan wabah, serta mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Berikut jadwal imunisasi bagi anak :

Bagaimana penanganan yang tepat jika anak mengalami gejala yang timbul setelah di lakukan vaksinasi ?
Idealnya vaksin tidak menimbulkan efek samping, kalau pun ada sangat ringan. Pemberian vaksin akan merangsang pembentukan kekebalan dengan cara sistem kekebalan penerima imunisasi bereaksi terhadap antigen yang ada didalam vaksin. Pada setiap individu pasti memiliki beragam reaksi tubuh yang berbeda-beda terhadap vaksin. Berikut gejala yang kadang muncul setelah pemberian vaksin beserta penanganannya :

No
Gejala
Penanganan
1.
Sakit, bengkak, kemerahan
1)      Kompres dingin pada lokasi suntikan
2)      Dapat diberikan parasetamol sesuai resep dokter
2.
Demam
1)      Berikan minum yang banyak
2)      Berikan pakaian sejuk dan nyaman
3)      Berikan parasetamol sesuai resep dokter

Berdasarkan ulasan di atas, imunisasi sangat penting dilakukan untuk melindungi tubuh anak dari penyakit serius. Dengan melakukannya secara rutin sesuai jadwal dan tahapan usianya, kekebalan tubuh anak bisa meningkat dan mampu melawan penyakit. Sehingga tenaga kesehatan dan masyarakat memiliki peran penting untuk ikut serta dalam mensukseskan program imunisasi di Indonesia.


Sumber :

WHO. Modul 3: Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. https://in.vaccine-safety-training.org/vaccine-reactions.html


 Penulis : Ade Maulia Firdani | 21601101032


Minggu, 12 April 2020



Mewujudkan keluarga sehat melalui penanganan penyakit TBC

Program Indonesia sehat ialah program agenda ke 5 nawa ciya yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas hdup masyarakat Indonesia. Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama dengan paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan, dan pelaksanaan jaminan kesehatan nasional. Pendekatan ini dilakukan dengan dua belas dalam Indikator Keluarga Sehat. Indikator-indikator tersebut adalah keluarga mengikuti KB, Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan, bayi mendapat imunisasi dasar lengkap, bayi diberi  ASI eksklusif selama 6 bulan, memantau pertumbuhan dan perkembangan balita tiap bulan, penderita TBC paru berobat sesuai standar, penderita hipertensi berobat teratur, gangguan jiwa berat tidak ditelantarkan, tidak ada anggota keluarga yang merokok, keluarga mempunyai akses terhadap air bersih Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat, dan sekeluarga menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional.
Artikel ini lebih focus mengenai  Tuberculosis.  Tuberkulosis (TBC) ialah  penyakit yang menular di sebabkan oleh bakteri myobacterium tuberkulosis yang mampu menyerang paru namun dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Indoesia merupakan negara yang termasuk sebagai 5 besar dari 22 negara di dunia dengan banyaknya pasien TBC dan saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TBC yaitu TBC resisten obat (multi drug resistance/MDR).  Untuk menanggulangi penyakit TBC dan pengobatannya secara standart maka langkah pertama ialah  Identifikasi terduga TBC di antara anggota keluarga, termasuk anak dan ibu hamil. Suspek atau terduga TBC adalah seseorang dengan gejala atau tanda TBC batuk 2 minggu atau lebih dapat diikuti dengan gejala lain yaitu dahak bercampur darah,sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam. Kedua tugas tingkat kesehatan tingkat 1 yaitu puskesmas ialah memfasilitasi terduga TBC atau pasien TBC untuk mengakses pelayanan TBC yang sesuai standar yang ada.
Ketiga ialah pemberian informasi terkait pengendalian infeksi TBC kepada anggota keluarga dan masyarakat, maka perlu di jelaskan kembali kepada keluarga pasien dan dapat puskesmmas melakukan promosi kesehatan di masyarakat mengenai cara penularan penyait TBC bisa melalui droplet dari orang yang terkena TBC maka untuk pencegahan dan pengendalian faktor risiko TBC dilakukan dengan cara membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku etika berbatuk, Melakukan pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, Peningkatan daya tahan tubuh,  pencegahan dan pengendalian infeksi TBCC di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, dan di luar Fasilitas Pelayanan Kesehatan, serta adanya promosi oleh kader PKK tentang pengobatan paru dengan pihak terkait kemenkes / pemda. Ke empat Pengawasan kepatuhan pengobatan TBC melalui Pengawas Menelan Obat (PMO) sesuai dengan ketentuan yang ada serta memberitahukan kepada pasien selama pengobatan tidak di perbolehkan untuk berhenti sendiri ditengah jalan harus mengikuti saran dari dokter saat control kembali dan dokter mampu menjelaskan tentang pengobatan yang benar kepada pasien.
Pencegahan TBC dapat dilakukan dengan mendapatkan vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Vaksin BCG umumnya diberikan saat bayi karena dapat mencegah terinfeksi TBC saat usia anak-anak. Selain itu, pencegahan TBC dapat dilakukan oleh seseorang yang terinfeksi TBC dengan cara minum obat secara rutin hingga tuntas. Oleh sebab itu Mari stop TBC dengan melakukan pengobatan hingga tuntas dan membawa anak anda untuk mendapatkan vaksin BCG

Created by Dewi Damayanti | 21601101020

Sumber :
1. Pedoman Umum Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2016 ; 19-55
2. Wanda Ayu. Mewujudkan Indonesia yang Sehat Lewat Pendekatan Keluarga. Online 2020 April 11.
3. Marlina Indah . Dicari Para Pemimpin untuk Dunia Bebas TBC.  Kementrian Kesehatan RI Pusat Data dan Informasi. Online 2020 April 11.





Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara maju maupun berkembang. Di negara kita sendiri, hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang penyandangnya paling umum dan banyak.
Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Keadaan ini dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, 1 dari 4 laki-laki dan 1 dari 5 perempuan menyandang hipertensi. Diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang penyandang hipertensi, dan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi beserta komplikasinya.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada usia ≥18 tahun sebesar 34,1%. Kejadian ini tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua (22,2%). Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang dan angka kematian akibat hipertensi di Indonesia sebesar 427.218 kematian.
The Silent Killer, itulah sebutan dari Hipertensi. Disebut seperti itu karena hipertensi sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak tahu kalau dirinya menyandang hipertensi. Tetapi di kemudian hari dirinya mendapatkan sudah terdapat penyakit penyulit atau komplikasi dari hipertensi.
Terkadang penyandang hipertensi mengeluhkan gejala yang seperti sakit kepala, pusing, gelisah, penglihatan kabur, jantung berdebar-debar, mudah lelah, dan lain-lain. Gejala tersebut tidak spesifik karena bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala seperti sakit kepala, kelelahan, mual dan muntah, sesak nafas, gelisah dan pandangan menjadi kabur.
Jika hipertensi tersebut tidak terkontrol maka penderita akan timbul berbagai komplikasi, komplikasi dapat mengenai beberapa organ didalam tubuh, seperti:
1. Bila mengenai Jantung kemungkinan dapat terjadi Infark Miokard, Jantung Koroner, Gagal Jantung Kongestif.
2.  Bila mengenai Otak akan terjadi stroke, ensefalopati hipertensif
3.  Bila mengenai Ginjal akan terjadi gagal ginjal kronis,
4.  Bila mengenai Mata akan terjadi retinopati hipertensif.
Dari berbagai komplikasi diatas akan berdampak pula terhadap psikologis penderita karena kualitas hidupnya rendah terutama pada kasus stroke, gagal ginjal, dan gagal jantung.
Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan pola hidup seseorang yang beresiko seperti stress, obesitas, konsumsi minim sayur dan buah dan makanan yang tidak sehat (junk food), konsumsi gula berlebihan, merokok dan aktifitas fisik yang kurang.
Langkah awal untuk mencegah hipertensi adalah merubah pola hidup yang sebelumnya tidak sehat menjadi sehat, dengan cara TEPAT
Turunkan berat badan sampai batas ideal, bagi penderita yang memiliki berat badan lebih,
Enyahkan kebiasaan merokok
Perbanyak konsumsi sayur, buah dan makanan bergizi lainnya,
Atur waktu olahraga atau aktifitas fisik secara rutin
Tidak mengkonsumsi garam berlebih setiap harinya

Langkah selanjutnya untuk mengendalikan hipertensi dengan cara CEPAT
Cek kesehatan di fasyankes terdekat
Emosi dikendalikan dengan baik
PAtuhi konsumsi obat yang diberikan dokter
Terapkan pola hidup sehat untuk mengendalikan hipertensi yang disandangnya
            
Oleh karena itu, mari cegah dan kendalikan Hipertensi sejak dini dengan TEPAT dan CEPAT!


Created by Nabila Ainur Rochim/ 21601101053


Referensi:

WHO. 2019. Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension. Diakses pada tanggal 8 April 2020.

Kemenkes. 2017. Fakta dan Angka Hipertensi. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/subdit-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/fakta-dan-angka-hipertensi. Diakses pada tanggal 6 April 2020.

Kemenkes. 2019. Hari Hipertensi Dunia 2019 : “Know Your Number, Kendalikan Tekanan Darahmu dengan CERDIK.”. http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/hari-hipertensi-dunia-2019-know-your-number-kendalikan-tekanan-darahmu-dengan-cerdik. Diakses pada tanggal 6 April 2020.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
Kemenkes. 2013. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Hipertensi. http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Pedoman-Teknis-Penemuan-dan-Tatalaksana-Hipertensi.pdf. Diunduh pada tanggal 8 April 2020.