Tampilkan postingan dengan label Hipertensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hipertensi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2020

Hindari STRES, Hindari Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Penyakit kardiovaskuler merupakan salah satu penyakit degeneratif yang disebabkan karena menurunnya fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti penyakit jantung koroner (PJK), penyakit gagal jantung, hipertensi, dan stroke. Kasus peyakit jantung koroner banyak dijumpai di negara berkembang maupun negara maju. Penyakit ini menjadi ancaman bagi seluruh manusia dan menjadi penyebab kematian yang sering dijumpai.
Menurut data World Heart Federation (2012) jumlah penduduk dunia yang meninggal akibat penyakit kardiovaskuler sebanyak 17,3 juta di tahun 2008. Wilayah Asia Tenggara sendiri Indonesia menempati urutan ke-4 setelah Negara Laos, Kamboja, dan Filiphina yang memiliki prevalensi penyakit jantung koroner.
Prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2013), prevalensi penyakit jantung koroner di Indonesia tahun 2013 menurut diagnosis dokter sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan berdasarkan diagnosis dokter dan gejala yang sudah ada sebesar 1,5% atau diperkirakan sekitar 2.650.340 orang. Dilihat dari diagnosis dokter, provinsi di Indonesia dengan prevalensi penyakit jantung koroner paling tinggi yaitu provinsi Jawa Barat sebanyak 160.812 jiwa (0,5%) dan prevalensi jantung koroner berdasarkan diagnosis dan adanya gejala paling banyak di provinsi Jawa Timur sebanyak 375.127 jiwa (1,3%).
Penyakit jantung koroner sendiri dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya stres. Stres bisa muncul dari berbagai permasalahan, misalnya saja karena pekerjaan yang menumpuk. Dalam suatu penelitian yang membuktikan hubungan stress dengan PJK, didapatkan hasil orang yang stres beresiko 5.8 kali terkena PJK dari pada orang yang tidak mengalami stres.
Stres didahului dengan adanya reaksi dari sistem saraf pusat yang merespon stressor dengan merangsang produksi hormon Adrenalin dan Katekolamin. Hormon Adrenalin dan Katekolamin dapat mengakibatkan penyempitan pembuluh darah jantung, serta meningkatkan denyut jantung sehingga menyebabkan terganggunya suplai darah ke jantung. Selain itu stres yang berkepanjangan akan menyebabkan tubuh memproduksi hormon cortisol dalam jumlah besar. Produksi hormon cortisol dalam jumlah besar terbukti dapat menyebabkan tubuh kehilangan fungsi kognitif dan menyebabkan 26 daya tahan tubuh lemah.
Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian PJK menghindari kejadian yang dapat menimbulkan stres. Misalnya saja, apabila pekerjaan menumpuk bisa diatasi dengan menyusun list dan mendahulukan pekerjaan yang pengumpulannya paling dekat. Meluangkan waktu untuk me time atau menyenangkan diri sendiri dengan melakukan hobi atau kegiatan yang paling disukai. Mengobrol atau curhat dengan keluarga dan orang terdekat juga bisa mengurangi beban pikiran.
Kapasitas dan kekuatan tubuh tiap individu berbeda-beda, hanya diri sendiri yang bisa merasakanya. Apabila tubuh sudah tidak tahan, maka istirahatlah karena kesehatan itu yang terpenting.

Referensi :

Yadi, Ahmad., Andri Dwi Hermawan, dan Abdul Ridha. 2014. Faktor Gaya Hidup Dan Stres Yang Beresiko Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Pasien Rawat Jalan. http://openjurnal.unmuhpnk.ac.id/index.php/JJUM/article/view/101 Diakses pada 16 April 2020
Farahdika, A., dan Mahalul Azam. 2015. Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Penyakit Jantung Koroner Pada Usia Dewasa Madya (41-60 Tahun) (Studi Kasus di RS Umum Daerah Kota Semarang). Unnes Journal of Public Health4(2). https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph/article/view/5188 Diakses pada 16 April 2020
Bertalina, dan Suryani AN. 2017. Hubungan Asupan Natrium, Gaya Hidup Dan Tekanan Darah Pada Pnederita Penyakit Jantung Koroner. Jurnal Kesehatan Politektik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjung Karang, vol 8(2):240-249. https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/index.php/JK/article/view/467 Diakses pada 16 April 2020
Menteri Kesehatan Republik Indonesia 2012. Penyakit Tidak Menular. https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/buletin-ptm.pdf Diakses pada 16 April 2020

Penulis : Risna Bekty K | 21601101043

Minggu, 12 April 2020





Penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara maju maupun berkembang. Di negara kita sendiri, hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang penyandangnya paling umum dan banyak.
Hipertensi atau Tekanan Darah Tinggi adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Keadaan ini dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 sekitar 1,13 Miliar orang di dunia menyandang hipertensi, 1 dari 4 laki-laki dan 1 dari 5 perempuan menyandang hipertensi. Diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 1,5 Miliar orang penyandang hipertensi, dan setiap tahunnya 10,44 juta orang meninggal akibat hipertensi beserta komplikasinya.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan hasil pengukuran pada usia ≥18 tahun sebesar 34,1%. Kejadian ini tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua (22,2%). Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang dan angka kematian akibat hipertensi di Indonesia sebesar 427.218 kematian.
The Silent Killer, itulah sebutan dari Hipertensi. Disebut seperti itu karena hipertensi sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak tahu kalau dirinya menyandang hipertensi. Tetapi di kemudian hari dirinya mendapatkan sudah terdapat penyakit penyulit atau komplikasi dari hipertensi.
Terkadang penyandang hipertensi mengeluhkan gejala yang seperti sakit kepala, pusing, gelisah, penglihatan kabur, jantung berdebar-debar, mudah lelah, dan lain-lain. Gejala tersebut tidak spesifik karena bisa saja terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal. Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala seperti sakit kepala, kelelahan, mual dan muntah, sesak nafas, gelisah dan pandangan menjadi kabur.
Jika hipertensi tersebut tidak terkontrol maka penderita akan timbul berbagai komplikasi, komplikasi dapat mengenai beberapa organ didalam tubuh, seperti:
1. Bila mengenai Jantung kemungkinan dapat terjadi Infark Miokard, Jantung Koroner, Gagal Jantung Kongestif.
2.  Bila mengenai Otak akan terjadi stroke, ensefalopati hipertensif
3.  Bila mengenai Ginjal akan terjadi gagal ginjal kronis,
4.  Bila mengenai Mata akan terjadi retinopati hipertensif.
Dari berbagai komplikasi diatas akan berdampak pula terhadap psikologis penderita karena kualitas hidupnya rendah terutama pada kasus stroke, gagal ginjal, dan gagal jantung.
Hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan pola hidup seseorang yang beresiko seperti stress, obesitas, konsumsi minim sayur dan buah dan makanan yang tidak sehat (junk food), konsumsi gula berlebihan, merokok dan aktifitas fisik yang kurang.
Langkah awal untuk mencegah hipertensi adalah merubah pola hidup yang sebelumnya tidak sehat menjadi sehat, dengan cara TEPAT
Turunkan berat badan sampai batas ideal, bagi penderita yang memiliki berat badan lebih,
Enyahkan kebiasaan merokok
Perbanyak konsumsi sayur, buah dan makanan bergizi lainnya,
Atur waktu olahraga atau aktifitas fisik secara rutin
Tidak mengkonsumsi garam berlebih setiap harinya

Langkah selanjutnya untuk mengendalikan hipertensi dengan cara CEPAT
Cek kesehatan di fasyankes terdekat
Emosi dikendalikan dengan baik
PAtuhi konsumsi obat yang diberikan dokter
Terapkan pola hidup sehat untuk mengendalikan hipertensi yang disandangnya
            
Oleh karena itu, mari cegah dan kendalikan Hipertensi sejak dini dengan TEPAT dan CEPAT!


Created by Nabila Ainur Rochim/ 21601101053


Referensi:

WHO. 2019. Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension. Diakses pada tanggal 8 April 2020.

Kemenkes. 2017. Fakta dan Angka Hipertensi. http://www.p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/subdit-penyakit-jantung-dan-pembuluh-darah/fakta-dan-angka-hipertensi. Diakses pada tanggal 6 April 2020.

Kemenkes. 2019. Hari Hipertensi Dunia 2019 : “Know Your Number, Kendalikan Tekanan Darahmu dengan CERDIK.”. http://p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/pusat-/hari-hipertensi-dunia-2019-know-your-number-kendalikan-tekanan-darahmu-dengan-cerdik. Diakses pada tanggal 6 April 2020.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular. Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia.
Kemenkes. 2013. Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana Hipertensi. http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/10/Pedoman-Teknis-Penemuan-dan-Tatalaksana-Hipertensi.pdf. Diunduh pada tanggal 8 April 2020.