Tampilkan postingan dengan label DBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DBD. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2020

WASPADA DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD), INGAT DENGAN 3M !!!

Di Indonesia pada awal tahun 2019 tercatat jumlah penderita DBD sebesar 13.683 penderita, dilaporkan dari 34 Provinsi dengan 132 kasus diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2018) dengan jumlah penderita sebanyak 6.167 penderita dan jumlah kasus meninggal sebanyak 43 kasus.  Pada awal tahun 2019 ini tercatat beberapa daerah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD diantaranya Kota Manado (Sulawesi Utara) dan 7 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu Sumba Timur, Sumba Barat, Manggarai Barat, Ngada, Timor Tengah Selatan, Ende dan Manggarai Timur. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat bahwa Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara.
Penyakit DBD adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue, suatu virus  yang termasuk dalam marga (genus) Flavivirus dari famili Flaviridae. Penularan virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk yang termasuk subgenus Stegomya yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus sebagai vektor primer dan Ae. polynesiensis, Ae.scutellaris serta Ae (Finlaya) niveus sebagai vektor sekunder. Fakto risiko penularan DBD adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat. Selain itu adalah kemiskinan yang mengakibatkan orang tidak mempunyai kemampuan untuk menyediakan rumah yang layak dan sehat, pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar.
Gejala yang timbul dari penyakit ini diantaranya adalah demam yang mendadak tinggi, terus menerus , disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, kemerahan pada kulit. Gejala lain seperti anoreksia (nafsu makan berkurang), nausea (mual), dan muntah sering ditemukan. Bila diperiksa laboratorium darah, biasanya didapatkan adanya penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan pada awal jumlah trombosit dan nilai hematokrit (kekentalan darah) sering kali masih dalam batas normal. Selanjutnya bisa ditemukan penurunan jumlah trombosit dan peningkatan nilai hematokrit. Fase ini biasanya berlangsung selama 2–7 hari.
Setelah mengetahui pengertian dan cara penularan dan gejala yang dtimbulkan, maka pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian penyakit DBD juga harus disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat dapat memahami pencegahan dan pengendaliannya sehingga dapat menurunkan angka kejadiannya. Upaya-upaya untuk mangantisipasi dan menanggulangi berjangkitnya DBD melalui gerakan 3M-plus (menguras tempat penyimpanan air, mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air dan menutup tempat-tempat penampungan air keluarga serta tindakan plus yaitu menggunakan kelambu, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah menaburkan bubuk larvasida/abatisasi pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, pemantauan jentik berkala (PJB), penggunaan obat anti nyamuk, mengoleskan obat anti nyamuk (repellent), memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk.


Pemberantasan sarang nyamuk perlu ditingkatkan terutama pada musim penghujan, karena meningkatnya curah hujan dapat meningkatkan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk, sehingga seringkali menimbulkan KLB. Hal ini memerlukan kepedulian dan peran serta aktif seluruh masyarakat untuk bergotong-royong melakukan langkah-langkah pencegahan tersebut. Menurut Pedoman Kemenkes RI tahun 2007, kegiatan pengendalian vektor dengan pengasapan atau fogging fokus dilakukan di rumah pasien/tersangka DBD dan lokasi sekitarnya yang diperkirakan menjadi sumber penularan. Kegiatan ini dilakukan bila hasil penyelidikan epidemiologi (PE) positif yaitu ditemukan pasien/tersangka DBD lainnya atau ditemukan tiga atau lebih orang dengan demam tanpa sebab dan ditemukan jentik > 5%.
Selain peran dan ikut serta dari masyarakat, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, pelayanan kesehatan yang baik diharapkan dapat  menurunkan angka kejadian dan kematian dari DBD. Angka kasus DBD serta keberhasilan program penanggulangan DBD tidak terlepas dari bagaimana pemberdayaan (peningkatan pengetahuan, persepsi, sikap dan praktik) masyarakat dalam penanggulangan DBD.
  
Sumber :
WHO. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Jakarta: WHO & Departemen Kesehatan RI; 2003

Kemenkes.2019. Kesiapsiagaan Menghadapi Peningkatan Kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2019.http://p2p.kemkes.go.id/kesiapsiagaan-menghadapi-peningkatan-kejadian-demam-berdarah-dengue-tahun-2019/ Diakses pada tanggal 14 April 2020.

WHO. Dengue: Guidlines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control. New Edition. Geneva: World Health Organization; 2009

Penulis : Laili Liutammima | 21601101094